Pamungkass.com

Bencana Alam Sumatera dengan Berstatus ‘Dalam Bahaya’ oleh Unesco, Siapa yang bertanggungjawab?

Jakub Prajogo (istimewa)
banner 120x600

Oleh: Jakub Prajogo

Kebijakan berlebihan yang kontraproduktif, tidak tertata kelola, serta reboisasi-rehabilitasi alam, di dalam penebangan kayu legal/ilegal, terhadap perambahan lahan kebun (sawit), dan tambang terkesan sangat serakah.

Sehingga membuat hutan/alam di Pulau Sumatera berstatus ‘Dalam Bahaya’ oleh Unesco.

Pray for Sumatera Kita. Kedukaan kini kembali menyelimuti saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang datang tanpa diduga.

Sehingga meninggalkan korban jiwa, luka dan duka yang mendalam, terhadap keluarga yang sudah ditinggalkan. Diduga, bencana dan musibah ini atas kerusakan alam, dampak dari tangan tangan jahil beserta oknum oknum, tidak bertanggungjawab.

Namun bencana menyatukan kita dalam kepedulian, kebersamaan, serta keprihatinan, atas musibah yang terjadi, agar kita saling bisa mendukung, serta membantunya.

Karena itu, marilah kirimkan doa doa terbaik, serta bantuan untuk keselamatan, kekuatan, maupun untuk pemulihan mereka disana.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Segera memberikan perlindungan, serta mengangkat keadaan mereka. Yakni dari setiap musibah yang terjadi itu, menjadi sebuah keberkahan, dan hikmah.

“Maka, tetap waspada dan marilah kita saling membantu, serta jangan berhenti saat berharap. Sumatera, kamu tidak sendiri,” ungkap sumber.

Kekayaan Alam Sumatera

Keanekaragaman hayati, satwa, keindahan alam, serta budaya di Pulau Sumatera, terutama Aceh, Sumut, dan Sumbar, paling besar terdampak bencana alam di Asia Tenggara.

Hutan Sumatera diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatera atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatra sejak 2004.

Kawasan alam yang membentang dari Aceh hingga Bandar Lampung telah menjadi salah satu kawasan konservasi terbesar di Asia Tenggara, dengan total luas areal 2.595.124 hektar. Tapi kini hanya tersisa seluas 12.561 hektare, dan sekitar 15% saja, kawasan hutan itu yang masih dapat difungsikan, sebagai hutan alami.

Sehingga membuat semakin langka, dan punahnya beberapa aneka ragam hayati, satwa, serta keindahan alam, maupun budaya yang menjadi potensi sumber perekonomian rakyat, negara dan makhluk hidup lainnya.

Terutama itu terhadap kebutuhan, ataupun sumber kehidupan, bagi seluruh makhluk hidup, atau untuk ekosistem, terutamanya terhadap sumber air, dan makanan, secara berkesinambungan.

Artinya apa. Yang paling utama dan selamanya ada, secara terus menerus bagi masyarakat adalah, ketersediaannya sumber makanan dan minum, dengan lingkungan alam yang tidak rusak, dan tidak berbahaya.

Daripada sekedar tambang serta kebun sawit yang pastinya habis, dapat merusak alam dan menjadi bencana besar bagi ekosistem alam kehidupan. Terutama sbb:

– Keanekaragaman hayati di hutan Sumatera, terdapat 10.000 spesies tumbuhan, termasuk 17 genus endemik, terutama pohon: meranti, merbau, ulin, keruing, medang, rengas, kulim, damar, andalas, raru, nyatoh, pulai & tanaman: red aglonema, bunga bangkai, anggrek, anturium, kaktus, bunga jeumpa, bunga kenanga.

– Keanekaragaman satwa di Hutan Hujan Tropis Sumatra sangat mengesankan, dengan 201 spesies mamalia, dan sekitar 580 spesies burung, terdiri dari 465 spesies residen, serta 21 spesies endemik, terutama mamalia endemik, orang utan, harimau, badak, gajah, burung kukuk, beruang madu, monyet kedih, bekantan, musang, macan, kukang, binturong dan burung tokhtor, beo, poksay.

– Keanekaragaman suku dan budaya Melayu, Minangkabau, Batak, Aceh, Gayo, Lampung, Nias, Rejang, Komering, Mentawai, subsuku: Karo, Sakai, Kubu serta Ogan.

– Keanekaragaman dan keindahan alam Sumatera. Meliputi:

1. Adanya Gunung Kerinci, Gunung Sibayak, Gunung Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Singgalang dan Gunung Pasaman.

2. Danau-Sungai: Toba, Singkarak, Maninjau, Danau Diatas-Dibawah,
dan Sungai Musi, serta Sungai Batanghari.

3. Ada Pantai Lhok Mee, Tanjung Tinggi, serta puluhan pantai indah lainnya.

4. Ada Pulau Weh, Pulau Lebong, Pulau Mentawai, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan lainnya.

5. Taman Nasional: Leuser, Bukit Barisan, Kerinci Seblat, serta lain lainnya.

Namun kebijakan berlebihan yang kontraproduktif tidak tertata kelola maupun dari reboisasi-rehabilitasi alam dalam penebangan kayu legal/ilegal terhadap perambahan lahan kebun (sawit), dan tambang dengan sangat serakah itu. Maka mengakibatkan kerusakan alam dan meninggalkan korban jiwa dan harta.

Indonesi Terletak di Garis Katulistiwa

Indonesia merupakan negara yang berada di wilayah garis katulistiwa dengan beriklim tropis serta posisi geografis yang sangat unik.

Selain itu Negara Indonesia juga terletak di kawasan, “Ring of Fire” atau cincin api dunia. Yaitu sebuah jalur pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif yang menjadikan wilayah ini rawan gempa bumi, letusan gunung api, serta tsunami.

Di sisi lain, perubahan iklim global telah menyebabkan adanya cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Banjir bandang, rob, angin kencang, dan tanah longsor kini datang tanpa pola yang pasti.

Kondisi ini sangat diperparah oleh semakin berkurangnya kawasan hutan, padahal Indonesia selama ini dianggap dunia sebagai salah satu “paru-paru dunia” yang berfungsi menahan pemanasan global.

Akibat kombinasi faktor alam dan kerusakan lingkungan dan hutan, maka bencana di Indonesia bukan lagi peristiwa yang jarang terjadi, melainkan sudah menjadi kenyataan yang terus berulang.

Oleh karena itu, negara dituntut tidak hanya mampu menangani bencana setelah terjadi, tetapi juga harus memiliki sistem mitigasi yang modern, siap, dan bermartabat.

Bahkan pihak Unesco menetapkan alam dan hutan di Sumatera, telah berstatus, “Dalam Bahaya Dunia”. Mari Pray for Sumatera dan Indonesia Kita. *

banner 325x300