Pamungkass.com

Islam Mengajarkan untuk Memuliakan Guru

ilustrasi (internet)
banner 120x600

JAKARTA (gokepri.com) – Dalam agama Islam, diajarkan untuk memuliakan guru yakni orang yang alim dalam ucapan dan perbuatan. Imam Al Ghazali bergelar Hujjatul Islam Zainuddin al-Thusi dalam kitab Bidayat al Hidayah menjelaskan ada adab-abad seorang murid kepada guru.

Sebelumnya, terkait dengan guru sempat viral di media sosial (medsos) karena disebut sebagai beban negara. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menegaskan potongan video terkait dirinya yang mengatakan guru sebagai beban negara adalah hoaks. Menkeu Sri menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bicara seperti itu.

Adapun adab-adab seorang murid terhadap gurunya, menurut Imam Al Ghazali seperti ini.

Apabila murid menemui gurunya maka hendaklah ia memberi salam kepadanya terlebih dahulu, jangan banyak cakap-cakap di hadapan guru, dan jangan bercakap-cakap sebelum guru bertanya.

Murid jangan bertanya kepada gurunya sebelum ia meminta izin, jangan menyangkal (menunjukkan rasa tidak puas hati) terhadap perkataan guru, dan jangan mengisyaratkan menyalahi pendapat guru dan menyangka bahawa dirinya (murid) lebih mengetahui daripada gurunya.

Jangan berbisik dengan orang yang duduk di samping ketika guru memberikan pelajaran, dan jangan berpaling ke kiri dan ke kanan di hadapan guru tetapi hendaklah menundukkan kepаla dengan penuh tenang lagi beradab seolah-olah sedang sembahyang.

Jangan banyak menanyakan persoalan kepada guru ketika ia nampak letih. Apabila gurunya berdiri hendaklah ia berdiri untuk menghormatinya.

Jangan mengikuti guru dengan perkataan atau pertanyaan ketika ia bangkit dari majlisnya, jangan bertanya kepada guru di tengah jalan sehingga ia sampai ke rumahnya atau ke tempat duduknya.

Jangan buruk sangka terhadap guru ketika murid melihat gurunya mengerjakan sesuatu pekerjaan yang pada zahirnya menyalahi ilmu yag diajarkannya (bukan menyalahi agama), maka gurunya itu adalah lebih mengetahui dengan rahsia segala perbuatanya dalam hal ini.

Hendaklah murid mengingati akan perkataan Nabi Musa Alaihissalam kepada Nabi Khidhir Alaihissalam seperti yang disebutkan dalam AlQur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَانْطَلَقَاۗ حَتّٰٓى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَاۗ قَالَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَاۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا

Fanthalaqā, hattā iżā rakibā fis-safīnati khara ahā, qāla akharaqtahā litugriqa ahlahā, laqad ji’ta syai’an imrā(n).

Kemudian, berjalanlah keduanya, hingga ketika menaiki perahu, dia melubanginya. Dia (Nabi Musa kepada Nabi Khidhir) berkata, “Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.” (QS Al-Kahf Ayat 71)

Maka hendaklah murid mengingati bahwa sebenarnya dia yang berprasangka kepada gurunya, karena hanya memandang hukum yang zahir saja.*

(sumber: republika.co.id)

 

banner 325x300