NATUNA (pamungkass.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mengajak masyarakat khususnya calon pengantin (catin), ibu hamil, dan orang tua yang memiliki balita, untuk memanfaatkan layanan di posyandu, sebagai upaya mencegah stunting melalui deteksi dini terhadap kondisi kesehatan.
Hal tersebut dengan menggelar Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Pelaksanaan Kegiatan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting dan Percepatan Program CKG (Cek Kesehatan Gratis) secara daring, bertempat di Ruang Zoom Kantor Bupati Natuna Lantai II, Bukit Arai, Rabu (05/08/2026), yang dipimpin langsung Bupati Natuna, Cen Sui Lan, didampingi Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Bapperida Kabupaten Natuna.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri Nomor 400.5.7/2501/Bangda tanggal 17 Maret 2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting di Daerah serta Surat Edaran Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Nomor B/400.7.13/48/DINKES-SET/2026 tanggal 8 Juli 2026, mengenai pelaksanaan kegiatan serupa di wilayah Provinsi Kepri.
Melalui rapat koordinasi tersebut, Pemkab Natuna menyamakan langkah dan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan intervensi serentak pencegahan stunting sekaligus percepatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di seluruh wilayah Kabupaten Natuna. Dan diikuti secara daring oleh pimpinan OPD terkait, para camat, lurah, kepala desa, Ketua TP Posyandu Kecamatan se-Kabupaten Natuna, Ketua TP Posyandu Kelurahan dan Desa se-Kabupaten Natuna, serta sejumlah undangan lainnya.
Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh unsur hingga tingkat kecamatan dan desa dalam memastikan program berjalan secara optimal. Menurutnya, upaya pencegahan stunting membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan.
“Pencegahan stunting harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah daerah, kecamatan, desa, Posyandu dan seluruh unsur terkait harus memastikan intervensi dapat menjangkau masyarakat secara tepat, sehingga upaya peningkatan kesehatan masyarakat benar-benar memberikan hasil,” ujar Cen Sui Lan.
Selain pencegahan stunting, ucapnya, percepatan pelaksanaan CKG juga menjadi bagian penting dalam penguatan upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Maka, program tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif mengetahui kondisi kesehatannya serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Dalam pelaksanaannya, koordinasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah kecamatan dan desa, serta kader Posyandu menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara terarah dan menjangkau masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Natuna,” jelasnya.
Bupati Natuna juga menegaskan bahwa pelaksanaan program tersebut akan dipantau secara berkala. Evaluasi akan dilakukan setiap pekan untuk melihat perkembangan pelaksanaan intervensi pencegahan stunting dan percepatan CKG di masing-masing wilayah, sekaligus mengidentifikasi kendala yang perlu segera ditindaklanjuti.
Dengan adanya evaluasi mingguan, Pemerintah Kabupaten Natuna berharap pelaksanaan intervensi pencegahan stunting dan program CKG dapat berjalan lebih terukur, tepat sasaran, serta mampu menjangkau masyarakat di seluruh kecamatan, kelurahan dan desa di Kabupaten Natuna.
Dengan adanya evaluasi mingguan, Pemerintah Kabupaten Natuna berharap pelaksanaan intervensi pencegahan stunting dan program CKG terus diperkuat dengan sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Melalui pelaksanaan program yang terkoordinasi hingga tingkat desa dan kelurahan, diharapkan upaya pencegahan stunting serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah mengatakan, ajakan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan intervensi serentak yang digagas Kementerian Dalam Negeri dengan sasaran seluruh ibu hamil, balita, dan calon pengantin di setiap wilayah yang dimulai sejak Agustus.
Menurut dia, melalui program tersebut pemerintah menargetkan seluruh sasaran menjalani pemeriksaan kesehatan di posyandu, agar bisa ditangani apabila ditemukan indikasi stunting.
Penanganan terhadap penderita stunting dilakukan melalui sejumlah intervensi, salah satunya pemberian makanan bergizi secara berkelanjutan hingga kondisi gizi kembali normal.
“Dalam kegiatan ini sasaran menjalani pengukuran dan penimbangan, meliputi tinggi badan, berat badan, serta lingkar lengan atas sebagai upaya mendeteksi dini stunting,” kata Hikmat.
Ia menjelaskan posyandu dilaksanakan satu kali setiap bulan. Masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan tersebut dapat memperoleh informasi jadwal pelaksanaannya melalui ketua RT, kelurahan, maupun pemerintah desa setempat.
“Bahkan, pemerintah juga memberikan layanan kunjungan ke rumah bagi sasaran yang tidak dapat hadir. Namun, pemerintah daerah tetap mengutamakan masyarakat yang datang langsung ke posyandu agar pelayanan dapat diberikan secara optimal,” paparnya.
Kalau hanya satu orang yang tidak hadir, imbuhnya, petugas masih bisa melakukan kunjungan ke rumah. Namun, apabila jumlahnya banyak tentu akan lebih sulit dijangkau satu per satu,” ujarnya.
Hikmat juga mengatakan apabila dalam pemeriksaan ditemukan masalah kesehatan lainnya, petugas akan memberikan rujukan secara berjenjang ke fasilitas pelayanan kesehatan, dimulai dari puskesmas, agar pasien memperoleh penanganan lebih lanjut.
“Pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting dilakukan untuk mendeteksi masalah sejak dini, sehingga kita dapat mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat,” pungkasnya. (dkfn)











