Opini  

Apa Dampak Kepemimpinan Yang Tidak Tegas?

Albert Efendi Pohan. (istimewa)

Oleh: Dr. Albert Efendi Pohan, S.Pd, M.Pd, Dosen Pascasarjana Universitas Riau Kepulauan, Pengampu Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan

Dulu, saya sangat menyakini jika seorang pemimpin dekat dengan anggota tim semua akan berjalan dengan efektif karena dibangun dengan rasa kebersamaan. Ternyata itu tidak benar, pemimpin yang memberikan ruang terlalu lebar kepada anggota timnya akan berdampakkan kepada sikap tidak komitmen.

Nyatanya, Pekerjaan membutuhkan kedisiplinan bukan keakraban, Organisasi membutuhkan keteraturan bukan perasaan. Jangan menjadi pemimpin pengemis rasa suka orang-orang di sekeliling anda di mana anda harus mengorbankan nilai dan arah organisasi yang sudah dibangun, agar bisa sesuai kehendak, dan perasaan semua orang. Pemimpin tidak bertugas agar selalu disukai semua orang dengan mengorbankan kebenaran dan kemajuan organisasi.

BACA JUGA:  Di Balik Tirai Pokja Newsroom Jaksa Jaga Desa

Pemimpin yang perannya tidak jelas yang hanya mengandalkan sikap akrab, cepat atau lambat akan kehilangan wibawanya. Hubungan akrab tidak menciptakan kinerja yang berkemajuan. Hanya ketegasan yang bisa menjaga wibawa kepemimpinan seorang pemimpin untuk membawa kemajuan organisasi.

Ketika ketegasan seorang pemimpin hilang, maka disiplin hilang, keteraturan kendor, dan budaya kerja semakin tidak sesuai dengan aturan. Keputusan tidak diperhatikan, rencana kerja tidak dilakukan, teguran perbaikan dan sangsi ketidakdisiplinan dianggap sikap arogansi.

Dan titik terendah seorang pemimpin yang tidak bisa bersikap tegas adalah harus mengemis kepada anggota timnya agar mereka melakukan tugas pokoknya dan memenuhi kewajibannya dimana mereka digaji untuk hal itu.

Selanjutnya, hilangnya ketegasan seorang pemimpin, maka setiap orang akan membawa petanya sendiri di organisasi itu. Semakin lama, setiap orang akan semena-mena melakukan kerjanya tanpa ada arah yang jelas, tidak ada target yang terukur, dan tidak ada motivasi untuk berinovasi.

BACA JUGA:  PP 20 Tahun 2026: Tarif Pajak UMKM Tetap 0,5 Persen, Kini Tanpa Batas Waktu bagi Wajib Pajak Orang Pribadi

Akhirnya, yang dirugikan adalah organisasi. Dan hal ini akan dipahami oleh pemimpin yang tidak tegas dan anggota yang tidak benar, Ketika organisasi tidak lagi menjadi sumber kehidupan bagi mereka dan selanjutnya mereka saling menyalahkan.

Saat itulah saya sadar bahwa tidak akan maju sebuah organisasi apapun, termasuk lembaga pendidikan jika pemimpinnya takut dibenci oleh anggota timnya karena berani tegas untuk mendorong kemajuan dan inovasi. Ketegasan sering disalahartikan oleh mereka yang tidak komitmen, tapi jangan berhenti, teruslah tegas karena proses bukan akhir dari kepemimpinan.

Kepemimpinan itu adalah, bukan tentang perasaan, bukan tentang keakraban, akan tetapi tentang ketegasan untuk memberikan ruang kepada setiap anggota untuk bertanggungjawab dengan tugasnya. Sehingga ketegasan itu dapat menggerakkan organisasi, dan ketegasan untuk mendorong kemajuan karir serta giving a hand untuk solving problems.

BACA JUGA:  Jangan Tunggu Kaya untuk Bersedekah

Maka, untuk ketegasan seorang pemimpin akan berujung pada kesejahteraan bersama dan pada saat itulah kesadaran akan muncul bahwa kepemimpinan anda akan dikenang membawa kemajuan. ***