JAKARTA (pamungkass.com)– Bursa Efek Indonesia (BEI) telah resmi dinyatakan sebagai bursa efek terbesar di Asia Tenggara, mencatatkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan kapitalisasi pasar yang telah mencapai angka kapitalisasi pasar, BEI kini mengungguli bursa-bursa lainnya di kawasan, termasuk Bursa Malaysia dan Singapura.
Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan,
pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya minat investor domestik dan asing, serta keberhasilan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
“Kami sangat bangga dengan pencapaian ini. Ini adalah bukti dari kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi Indonesia,” ungkap Jeffrey Hendrik, saat pemaparan dalam acara Media Gathering OJK Pusat di Jakarta, Selasa (05/08/2025), di Kantor BEI Jakarta Pusat.
Diterangkannya salah satu faktor yang berkontribusi pada pertumbuhan BEI adalah meningkatnya jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO). Dalam tahun ini, BEI mencatatkan [jumlah IPO] perusahaan yang terdaftar, yang menunjukkan antusiasme pelaku pasar untuk berinvestasi di Indonesia.
“Kami terus berupaya untuk mendukung perusahaan-perusahaan lokal agar dapat mengakses pasar modal dan meningkatkan daya saing mereka,” paparnya.
Selain itu, perkembangan teknologi juga berperan penting dalam menarik minat investor. Dengan adanya platform perdagangan online dan aplikasi investasi, masyarakat kini lebih mudah untuk berinvestasi di pasar saham.
“Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dan memberikan kemudahan bagi investor, terutama generasi muda,” ungkap Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia
Namun, ujarnya, meskipun BEI telah mencapai posisi teratas di Asia Tenggara, tantangan tetap ada. Fluktuasi pasar global dan ketidakpastian ekonomi dapat mempengaruhi kinerja bursa.
“Kami akan terus memantau kondisi pasar dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi untuk bisa menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ucap Jeffrey Hendrik.
Dengan pencapaian ini, ucapnya, diharapkan Bursa Efek Indonesia dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pusat keuangan terkemuka di Asia, serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.
Transformasi ini juga, tambahnya, membuat BEI memperdagangkan waran terstruktur, short selling, dan dalam waktu dekat akan menghadirkan liquidity provider untuk meningkatkan efisiensi pasar.
“Maupun dari memperdagangkan instrumen repo, guna memperkuat posisinya sebagai salah satu bursa terlengkap di Kawasan,” terangnya.
Selain itu, kata Hendrik, pihaknya juga mengatakan bahwa 15 persen dari total investor pasar modal Indonesia berasal dari wilayah Sumatra.
“Dan angka ini menunjukkan peran penting wilayah Sumatra dalam perkembangan industri keuangan nasional yang semakin inklusif. Dan tercatat, hingga akhir Juli 2025 jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 17,4 juta, meningkat pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Hendrik.
Dimana, ucapnya sepanjang 2024, BEI menargetkan penambahan 2 juta investor baru namun berhasil melampaui target dengan meraih 2,7 juta.
“Sementara pada tahun ini, dari target serupa, BEI telah mencatat tambahan 2,5 juta investor hanya dalam tujuh bulan pertama. Angka ini cukup menggembirakan bagi kami. Dan ini menjadi fokus kami untuk terus melakukan edukasi, pemerataan akses, dan perlindungan terhadap investor di seluruh wilayah Indonesia,” tutupnya. (Nov)











