JAKARTA (pamungkass.com) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia, tak dapat dipungkiri telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Namun di balik kemajuan tersebut, Indonesia juga menghadapi ancaman serius berupa kejahatan siber atau cyber crime. Demikian disampaikan Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman tentang ancaman kejahatan siber di Indonesia.
“Hari ini, serangan siber tidak hanya menyasar individu, tetapi juga lembaga pemerintahan, sektor ekonomi, pelayanan publik hingga keamanan nasional,” ungkap Dudung Abdurachman, Selasa (2/6).
Menurut Dudung, serangan siber saat ini, mencakup pencurian data pribadi, penipuan online, penyebaran hoaks, provokasi, peretasan sistem, hingga propaganda radikalisme melalui media digital.
Dudung menguraikan, berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), jumlah serangan siber sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar 5,5 miliar serangan.
“Angka tersebut melonjak tajam tujuh kali lipat atau naik sekitar 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan selama periode 2020–2024 ” urainya.
Tren peningkatan tersebut, lanjut Dudung, juga berlanjut pada awal tahun 2026. Dalam rentang waktu 1 Januari hingga 15 April 2026, tercatat sebanyak 1,52 miliar serangan siber terjadi di Indonesia.
Ia menegaskan, kesadaran perlindungan data pribadi harus menjadi perhatian bersama karena ruang digital kini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Untuk itu, pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga terus memperkuat sistem keamanan siber nasional.
Di sisi lain, Kantor Staf Presiden (KSP) juga mendorong penguatan koordinasi lintas sektor agar penanganan ancaman siber dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu.
Namun demikian, pihaknya menekankan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Peran aktif masyarakat dinilai sangat penting dalam menciptakan ruang digital yang aman dan sehat.
“Kita harus lebih bijak menggunakan media sosial, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terprovokasi informasi palsu maupun menjadi korban penipuan digital,” ujar Dudung.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga ruang digital Indonesia agar tetap aman, sehat, dan produktif.
“Mari kita jadikan teknologi sebagai alat pemersatu dan kemajuan bangsa, bukan menjadi celah bagi kejahatan dan perpecahan. Bersama kita lawan kejahatan siber. Bersama kita jaga Indonesia,” pungkasnya. *
(sumber: Kantor Staf Presiden RI)











