Oleh: Jeni Agus Saputra, Mahasiswa Prodi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Padang
Di tengah maraknya kopi modern dan berbagai merk kopi instan yang beredar di pasaran, kopi tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu produk kopi yang tetap mempertahankan cita rasa klasik tersebut adalah Kopi Rangkiang Kaum, sebuah usaha kopi bubuk yang berasal dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Kopi ini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Dengan aroma yang khas dan rasa kopi yang kuat, produk ini terus diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari rumah tangga hingga pemilik warung kopi.
Kopi Rangkiang Kaum pertama kali didirikan pada tahun 1979 oleh H. Masrul. Pada awalnya, usaha ini merupakan usaha keluarga yang memproduksi kopi bubuk secara sederhana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.
Seiring berjalannya waktu, usaha ini terus berkembang dan kini telah dikelola oleh generasi berikutnya dari keluarga pendiri. Produk kopi yang awalnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini sudah dipasarkan lebih luas ke berbagai daerah di Sumatra Barat dengan menggunakan kemasan plastik yang praktis.
Nama “Rangkiang” sendiri diambil dari istilah dalam budaya Minangkabau. Rangkiang merupakan lumbung padi tradisional yang biasanya berdiri di halaman rumah gadang. Dalam budaya Minangkabau, rangkiang melambangkan kemakmuran dan tempat menyimpan hasil bumi yang berharga. Filosofi ini kemudian digunakan sebagai identitas produk untuk menggambarkan kualitas kopi yang dihasilkan.
Kualitas rasa kopi tentu sangat dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Kopi Rangkiang Kaum menggunakan biji kopi pilihan yang berasal dari perkebunan kopi di sekitar Batusangkar, daerah yang berada di lereng Gunung Marapi.
Wilayah ini dikenal memiliki iklim pegunungan yang sejuk dan tanah yang subur, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman kopi. Biji kopi yang digunakan sebagian besar berasal dari petani lokal di Sumatra Barat, sehingga usaha ini juga turut mendukung perekonomian masyarakat sekitar.
Jenis kopi yang digunakan umumnya adalah kopi robusta pilihan, yang dikenal memiliki rasa kuat, body yang kental, serta aroma yang khas.
Proses produksi Kopi Rangkiang Kaum dilakukan secara mandiri di pabrik mereka yang berada di Tanah Datar. Setiap harinya, usaha ini mampu memproduksi sekitar 1 ton kopi bubuk.
Proses pembuatan kopi dimulai dari pemilihan bahan baku, penyangraian atau roasting biji kopi, penggilingan hingga menjadi bubuk, sampai pada tahap pengemasan. Beberapa mesin yang digunakan dalam proses produksi antara lain mesin sangrai, mesin penggiling kopi, serta mesin pengayak untuk memastikan bubuk kopi memiliki tekstur yang halus. Pengawasan kualitas juga dilakukan terutama pada tahap penyangraian dan pengemasan. Hal ini bertujuan untuk menjaga konsistensi aroma, rasa, dan warna kopi agar tetap sama di setiap produksi.
Salah satu hal yang membuat Kopi Rangkiang Kaum tetap diminati adalah cita rasanya yang khas. Kopi ini dikenal memiliki aroma yang harum dan rasa yang kuat, sehingga cocok bagi pecinta kopi hitam tradisional.
Tekstur bubuk kopi yang sangat halus juga menjadi keunggulan tersendiri. Saat diseduh, kopi ini hampir tidak meninggalkan ampas di dalam cangkir, sehingga memberikan pengalaman minum kopi yang lebih lembut.
Selain itu, perpaduan rasa pahit dan sedikit manis alami membuat kopi ini terasa seimbang dan khas, seperti kopi tradisional yang biasa dinikmati masyarakat Sumatra Barat.
Kopi Rangkiang Kaum dipasarkan dalam bentuk kopi bubuk kemasan dengan desain yang mengangkat unsur budaya Minangkabau. Ilustrasi rangkiang atau lumbung padi sering ditampilkan pada kemasan sebagai simbol identitas budaya daerah. Kemasan kopi ini tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 45 gram, 250 gram, hingga 1 kilogram, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Dipasarkan Secara Offline dan Online
Dalam pemasarannya, Kopi Rangkiang Kaum didistribusikan langsung dari pabrik ke berbagai toko oleh-oleh, pasar tradisional, serta warung kopi di Sumatra Barat.
Selain itu, produk ini juga dipasarkan melalui platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada agar dapat menjangkau konsumen di luar daerah.
Tidak hanya itu, promosi juga dilakukan melalui media sosial dengan menampilkan berbagai konten mengenai proses penyeduhan kopi, cerita sejarah produk, hingga testimoni pelanggan.
Memberikan Dampak Ekonomi bagi Masyarakat
Keberadaan usaha Kopi Rangkiang Kaum juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Usaha ini melibatkan petani kopi lokal sebagai pemasok bahan baku serta mempekerjakan sekitar 24 tenaga kerja dalam proses produksinya. Dengan kapasitas produksi yang cukup besar dan permintaan pasar yang stabil, usaha ini mampu bertahan dan tetap memperoleh keuntungan meskipun harga bahan baku kopi mengalami kenaikan.
Tetap Bertahan di Tengah Persaingan Industri Kopi
Seperti usaha lainnya, Kopi Rangkiang Kaum juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persaingan dengan produk kopi lain hingga fluktuasi harga bahan baku. Bahkan pada masa pandemi Covid-19, penjualan sempat mengalami penurunan.
Namun dengan memanfaatkan pemasaran digital dan memperluas penjualan melalui marketplace, produk ini kembali menunjukkan peningkatan permintaan.
Ke depan, pengelola Kopi Rangkiang Kaum berharap dapat memperluas pasar hingga ke seluruh Indonesia agar kopi khas dari Tanah Datar ini semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Menjaga Tradisi Kopi Khas Minangkabau
Lebih dari sekadar produk kopi bubuk, Kopi Rangkiang Kaum merupakan bagian dari tradisi dan identitas masyarakat Minangkabau. Dengan mempertahankan proses produksi tradisional dan menggunakan bahan baku dari petani lokal, kopi ini menjadi salah satu contoh bagaimana usaha keluarga dapat bertahan dan berkembang selama puluhan tahun.
Dengan cita rasa yang khas dan sejarah panjang yang dimilikinya, Kopi Rangkiang Kaum diharapkan dapat terus menjadi salah satu kebanggaan produk kopi lokal dari Sumatra Barat. **









