BATAM (pamungkass.com) – PLN Batam telah melakukan sosialisasi struktur tarif pengisian kendaraan listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Skema ini diharapkan mendorong adopsi kendaraan listrik serta memperkuat ekosistem energi bersih di Batam.
Kejelasan tarif dinilai penting untuk memberi kepastian biaya bagi pengguna, sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap layanan SPKLU. PLN Batam menekankan, struktur biaya yang ringkas menjadi salah satu strategi mempercepat transisi ke kendaraan listrik.
Tarif pengisian listrik di SPKLU ditetapkan sebesar Rp 2.466,78 per kilowatt-jam (kWh) sesuai regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Komponen ini menjadi biaya utama yang dibayar pengguna.
Sejumlah komponen lain tidak dikenakan biaya. PLN Batam menetapkan biaya layanan pengisian sebesar Rp 0 per sesi. Pajak pertambahan nilai dan biaya administrasi juga Rp 0 per kWh, sehingga pengguna hanya membayar konsumsi energi listrik.
Satu-satunya komponen tambahan adalah Pajak Barang dan Jasa Tertentu atas Tenaga Listrik (PBJT-TL) sebesar 8 persen dari total biaya pengisian. Struktur ini memberikan gambaran biaya yang jelas dan terukur bagi pengguna.
Dari sisi ekonomi, tarif pengisian listrik dinilai kompetitif dibandingkan bahan bakar kendaraan konvensional. Biaya energi yang relatif stabil membuka peluang efisiensi operasional, terutama bagi sektor logistik, transportasi daring, dan perusahaan dengan armada kendaraan.
Efisiensi biaya transportasi berpotensi menekan biaya distribusi barang dan meningkatkan daya saing usaha. Dampaknya, tekanan inflasi dari sektor transportasi dapat berkurang dalam jangka menengah.
Selain tarif, akses layanan juga diperluas melalui platform digital berbasis web. Sistem ini memungkinkan pengguna mengakses SPKLU, memantau konsumsi listrik, dan melakukan pembayaran secara langsung.
Manajer Humas PLN Batam Yoga Perdana Sulastama mengatakan, transparansi tarif menjadi langkah penting untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik.
“Dengan tarif yang jelas dan akses layanan yang mudah, kami berharap adopsi kendaraan listrik di Batam terus meningkat,” ujar Yoga, belum lama ini.
Pengembangan SPKLU juga membuka peluang investasi baru di sektor energi dan infrastruktur. Kebutuhan pembangunan jaringan, teknologi pengisian, serta layanan pendukung melibatkan berbagai pelaku industri.
Menurut Yoga, Batam sebagai kawasan industri memiliki kebutuhan mobilitas tinggi sehingga membutuhkan sistem transportasi yang efisien dan rendah emisi.
“Kehadiran SPKLU dengan tarif kompetitif diharapkan mendorong transisi menuju transportasi bersih sekaligus meningkatkan daya tarik investasi,” kata Yoga.
Ke depan, pertumbuhan kendaraan listrik diperkirakan meningkat seiring bertambahnya infrastruktur pengisian dan dukungan kebijakan pemerintah. Batam berpeluang menjadi salah satu pusat pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. (r)













